Latest News

Tampilkan postingan dengan label News And Feed. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News And Feed. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Februari 2017

Ora Beach, Maluku: A Seashore of Solitude



A trip to Pantai Ora is a suitable getaway from all the frantic a city life has to offer.  Evidently due to the poor signal reception, but if you’re using Telkomsel as a provider you may occasionally get lucky when placed at the right spot. So for Nomophobics, this would be your trip for rehabilitation.
Pantai Ora or Ora Beach is a secluded beach within the outskirts of Pulau Seram, Maluku. It is well acknowledged as the “Maldives” of Indonesia. Obviously, because of the “Above the Water” resort.

Exhibit 1. Ora Beach Eco Resort


From Jakarta, it takes approximately 4hours by air, 2hours by sea and another 2.5hours by land; but every hassle was worth the view! Otherwise, you may opt to stop by Ambon overnight to save your energy and proceed the following day trip to Ora Beach. Indeed my short stop in Ambon was also enjoyable!

Ambon, the capital of Maluku is the biggest city in the island and was contested during the colonial area between Spain, Dutch and Portugal. Surrounded by sea, the locals mostly work as fisherman and sailors. So take the time to try their local seafood delicacies. One of the recommended restaurant is Rumah Makan Sari Gurih; endulge yourself with a grilled or steam seafood with their signature Colo Colo condiment or with sago porridge which is locally known as Papeda. You’d be surprise of how much cheaper the food were compare to prices in Jakarta.

Exhibit 2. RM Sari Gurih


Natsepa Beach in the afternoon is also a nice place just to relax, drink fresh coconut water while enjoying the sea breeze. But if you’re in dire need of your daily caffeine dose, you may instead visit its local coffee house Rumah Kopi Sibu Sibu to enjoy its local signature coffees.
Their signatures are known as Kopi Sibu Sibu and Kopi Rarobang which are coffees served with ginger, spices, milk and often almonds. The coffee house has its music corner where locals can impetuously come up and sing.

Ambonese musical talent is without a doubt, so imagine yourself enjoying your coffee serenaded by musicians such as Glenn Fredly, Barry Likumahuwa, and Andre Hehanusa. The perks of drinking coffee in a musical city!

Exhibit 3. Natsepa Beach


Reaching Ambon is possible by taking a direct flight from Jakarta. Next you will need to take a huge ferry ride that fits up to 500 people from Ambon to Amahai Port in Seram. For those less experienced to take long trip by sea, it is strongly advisable not to forget to bring Antimo or other nausea treatments.
Onwards you will need to take another 2.5hours car ride through scenic forestry routes to take you (finally) to Ora Beach. 

Exhibit 4. The Vessel from Ambon to Seram


Ora Beach Eco Resort offers packages ranging on how many days and nights you get to stay. They provide both offshore and onshore cottages, known as the Water Cottage and the Beach Cottage respectively. During busy season the offshore cottages are usually fully booked. Although you may also stay at the onshore cottages, the Ocean Resort overlooking both the sea and mountains is of course preferable. 

When you depart for Ora bear in mind that you have left your routines back in the city for a humbled trip, so be prepared not having any hot water to shower and no AC to keep you cool during the day. It is advisable that you bring mosquito repellants to use during night time. 

The water beneath the cottage was crystal clear; fishes, urchins and corals were effortlessly visible by naked eyes. You may be tempted to jump off, but it is imperative for you to be aware of your surroundings. To injure yourself by bumping into nearby sea urchins is the last thing you need to enjoy this peaceful resort. They were everywhere in sight!

Exhibit 4. View from the Sea Resort


Staying for 4D3N although has sufficed my long for a peace of mind, still leaves me with places unexplored. The basic package comes with 3 nearby snorkeling spots and a trip to the famous Air Mata Belanda. The resort provides 4 meals a day, but you may visit a nearby shack to buy fresh fishes and lobsters to have for dinner. Of course there will be extra charges for the fuel, seafood as well as the cooking fee.

The following day you may go for cruising along Salawai Rivers which is known to be filled with crocodiles, explore nearby bat cave or go for other snorkeling trip such as to Pulau Tujuh. Depending on the packages you’ve booked, additional charges may apply for these extra trips.
Pulau Tujuh is a definite breathtaker! It takes about 60-70minutes by speed boat to get there but if you’re lucky you may also cross dolphins on your way. The scenery both above and under water was ineffable.
 

Exhibit 5&6. Pulau Tujuh


If you’re not into swimming, its okay! Bringing a book along is a good alternative to spend your time here. Good news for Nomophobics opting for a trip to Pulau Tujuh. A BTS is located nearby at the other end of Pulau Seram, so this would be the right time to grab your phones and upload as many pictures as you like. Maybe also to text your loved ones and letting them know you’re well, alive, and very much at ease.



Ora Beach may be considered as a good reset button before heading back to our daily routines. It was enjoyable partly as the facilities were also well taken care of.. So should you decide to come over, please take care of your disposals so that future visitors may share your pleasant experience. Enjoy!

Rabu, 18 Januari 2017

Kisah Mistis Museum Wayang Kota Tua



Ibu Kota Jakarta sebagai pusat pemerintahan sejak jaman penjajahan Belanda memang memiliki sejumlah kisah yang beragam. Bahkan, tak hanya kisah sejarah awal mula berdirinya Negara kita tercinta tapi juga kisah-kisah mistis yang seolah tidak pernah terlepas dari kisah di Ibu Kota. Salah satu kawasan yang dikenal sangat kental dengan kisah mistisnya adalah kawasan Kota Tua yang berada di daerah Jakarta Barat. Kawasan Kota Tua sebenarnya merupakan kawasan yang menjadi tempat wisata favorit di Ibu Kota. Namun, banyaknya bangunan yang merupakan bangunan peninggalan Belanda, pun membuat kawasan ini dikenal sangat angker. Seperti museum Wayang yang konon punya banyak kejadian mistis.

Seperti namanya, museum ini memiliki banyak jenis wayang dari tanah air dan beberapa Negara lainnya. Namun, seperti kisah yang melekat pada sederet bangunan tua bersejarah, museum ini juga tidak terlepas dari kisah mistis yang mengerikan. Dalam catatan sejarah, museum yang pertama kali di buat pada tahun 1640 ini pada jaman penjajahan Belanda di gunakan sebagai gereja Oude Hollandsche Kerk yang menjadikan bangunan ini sebagai bangunan penting di era kolonial Belanda. Bangunan tua ini juga sempat beberapa kali beralih fungsi sebelum akhirnya pada tahun 1957 bangunan ini sepenuhnya di serahkan pada lembaga kebudayaan Indonesia.

Dari sisi sejarah, bangunan ini memang memiliki kisah yang menarik namun di balik kisah-kisah sejarahnya bangunan ini juga sangat melekat dengan kisah mistis menyeramkan. Mulai dari suara-suara teriakan misterius, suara langkah serdadu Belanda hingga suara ringkihan kuda yang membuat bulu kuduk merinding hebat.

Wayang Bergerak Sendiri




Kisah mistis pertama yang melekat dari museum ini adalah fenomena gaib yang konon menyelimuti sejumlah wayang. Konon beberapa wayang seperti wayang yang berasal dari Sumatera bernama Si Gale-Gale yang memiliki bentuk tiga dimensi kerap terlihat bergerak sendiri. Kisah mistis ini pun di benarkan oleh salah seorang pekerja Museum bernama Rohim. Menurutnya pernah ada seorang anak kecil yang ketakutan karena saat mengamati wayang tersebut, tiba-tiba wayang Si Gale-Gale terlihat bergerak sendiri. Namun, menurut Rohim fenomena mistis tersebut tidak hanya terjadi pada wayang Si Gale-Gale, karena ada satu wayang yang merupakan sumbangan dari seorang kolektor China yang tidak bisa di pindahkan sama sekali. Ia percaya jika sejumlah wayang di Museum ini memang berpenghuni.

Ruang Penyimpanan Gamelan




Selain wayang, museum ini juga banyak penyimpan benda-benda khas budaya Indonesia, seperti gamelan. Namun, ruang penyimpanan gamelan ini juga tak luput dari kisah mistis yang mengerikan. Konon, di ruangan ini di huni oleh makhluk gaib berwujud anak kecil. Menurut kisahnya, hantu inilah yang paling banyak mengganggu, tidak hanya penjaga tapi juga pengunjung. Kisah tersebut di benarkan oleh Syarif yang merupakan seorang penjaga museum. Konon menurut kisahnya, saat ia sedang bersih-bersih di ruangan ia dikejutkan dengan sebuah dorongan, karena kaget ia pun langsung refleks untuk melihat siapa yang mendorongnya. 

Betapa kagetnya, saat ia berbalik ia melihat satu sosok anak kecil yang menatap kearahnya dengan tatapan yang mengerikan. Tidak hanya aksi isengnya, hantu tersebut juga konon sempat membuat salah seorang pengunjung sampai jatuh sakit. Usut punya usut pengunjung tersebut kabarnya memang sempat memainkan gamelan yang ada di dalam ruangan meski sudah dilarang.


Pintu Masuk Museum



Museum ini sepertinya memang sangat angker, bahkan setiap sudut bangunan punya kisah mistis yang membuat siapa saja ketakutan. Salah satu sudut bangunan yang juga terkenal akan keangkerannya adalah pintu masuk Museum. Konon menurut kisah yang beredar di pintu masuk sering terlihat sosok hantu wanita berbaju merah. Menurut para petugas hantu tersebut biasanya terlihat berjalan dari pintu masuk dan kemudian menghilang tepat di depan toilet. Konon, hantu tersebut memang tidak mengganggu tapi hantu tersebut bisa membawa malapetaka jika ada yang berani berbuat usil.

Tangga Menuju Lantai Dua (Depan Musholah)

Daerah depan musholah di depan tangga menuju lantai dua juga kental dengan fenomena mistis mengerikan. Menurut kisahnya, di daerah tersebut sering terlihat hantu wanita berbaju kusam khas Belanda dengan perwujudan wajah yang hancur. Kisah penampakannya pun di benarkan oleh salah seorang pekerja bernama Hasan. Menurut kisahnya kala itu ia bahkan sempat jatuh pingsan sesaat ia sebelum sholat di musholah. Awalnya saat berada di dalam ia merasakan nuansa yang aneh yang membuatnya merinding. Benar saja saat berbalik ke pintu masuk ia melihat sosok hantu wanita, sebenarnya ia sendiri cukup sadar jika sosok tersebut adalah penghuni mistis museum namun ia tidak menyangka jika perwujudannya sangat mengerikan.

Kisah mistis yang paling melegenda di museum ini adalah kisah mengenai penampakan hantu tanpa kepala yang biasa di sebut dengan nama Murjangkung. Konon hantu tersebut adalah hantu Jan Pieterzon Coen yang merupakan salah seorang tokoh penting Belanda yang tewas di pancung oleh masyarakat Betawi.


Sumber foto:

Selasa, 17 Januari 2017

RAHASIA FENOMENA API BIRU KAWAH IJEN



Fenomena Api Biru hanya akan dapat anda temukan di dua tempat di dunia ini, yaitu di Islandia dan Kawah Ijen Banyuwangi. Lokasi ini kini ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara karena keindahan pemandangan alamnya.

 Sumber Gambar


Api biru dapat anda lihat setelah matahari terbenam hingga terbit kembali. Selama itu, anda akan disuguhkan salah satu fenomena yang akan membuat anda berdecak kagum. Warna ‘api’ kebiruan yang muncul sangat indah untuk diabadikan

 Sumber Gambar


Namun, apakah anda tahu bahwa sebenarnya api biru tersebut bukanlah api? Berdasarkan sumber yang kami dapatkan, fakta dari Api Biru Kawah Ijen ini jarang diketahui oleh wisatawan. Ditambahkan, Api Biru yang muncul di Kawah Ijen merupakan fenomena alam, yakni gas yang keluar dari tanah bertemu dengan oksigen

Jika dilihat, memang warna biru yang hadir mirip sekali dengan warna api biru yang sering kita lihat diatas kompor gas. Tapi nampaknya memang hingga saat ini wisatawan tidak mempersoalkan asal-usul api biru tersebut. Memang faktor keindahannya yang justru menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

 Sumber Gambar


Untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari Api Biru Kawah Ijen ini, disarankan pada pukul 05:00 pagi. Ini dikarenakan pada waktu tersebut, oksigen yang ada sangat bagus dan api birunya terlihat sempurna

Senin, 09 Januari 2017

The Ghost Palace Hotel Bali, Hotel Milik Keluarga Cendana yang Terkenal Angker



Bali memang menjadi kota wisata paling terkenal di Indonesia. Tidak hanya untuk kalangan lokal, turis mancanegara pun tidak terhitung lagi banyaknya menjadikan pulau dewata tujuan indah liburan mereka. Namun, di balik tradisi yang masih terjaga hingga kini, juga keeksotisan pantai-pantai serta Pura-nya, Bali punya sejumlah tempat yang diyakini angker oleh sejumlah orang.

Kamu yang pernah berkunjung ke Bedugul terutama ke objek wisata Danau Bratan, pasti bakal tidak asing lagi dengan pemandangan The Ghost Palace Hotel. Ya, tempat itu menurut banyak orang termasuk masyarakat sekitar, adalah salah satu hotel paling angker yang ada di Bali.

Konon banyak ditemukan sejumlah hal-hal ganjil di hotel yang terbengkalai puluhan tahun ini. Isu-isu sadis yang ada di situ juga makin menambah kesan horor The Ghost Palace Hotel. Lebih jauh tentang si hotel paling menakutkan di Bali itu, berikut adalah fakta-fakta tentang The Ghost Palace Hotel yang bakal membuatmu merinding.

 

Hotel Berhantu ini Milik Tommy Soeharto


“Bedugul Taman Rekreasi Hotel & Resorts” atau disebut juga “P.I. Bedugul Taman Hotel Restoran” merupakan nama sesungguhnya dari The Palace Hotel yang lebih dikenal saat ini. Hotel ini sendiri merupakan bisnis dari anak presiden kedua Indonesia, yakni Tommy Soeharto. Namun dalam perjalanannya hak miliknya pun sudah berganti tangan.




Letnan Jendral TNI Sudjana adalah pihak yang membeli hotel ini dari keluarga Cendana. Sayangnya nih setelah dibeli tak lama kemudian hotel tersebut dijual kepada Purnayasa salah satu warga setempat. Tidak diketahui secara pasti alasan utama kenapa hotel ini berpindah-pindah pemilik. Namun, hal tersebut diduga karena satu dan lain hal.

 
Dihentikan Pembangunannya Karena Sejumlah Hal


Jika dilihat dan diamati dengan seksama, hotel ini merupakan konstruksi yang cantik dengan bangunan luas bernilai seni agung. Akan tetapi pada prosesnya hotel ini mengalami sejumlah kendala sehingga pembangunannya pun dihentikan. Kini, hotel itu pun mangkrak alias dibiarkan begitu saja tanpa ada proses renovasi atau semacamnya.




Ada beberapa faktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadi. Faktor terkuat masih seputaran krisis ekonomi yang terjadi pada pelengseran Soeharto pada tahun 1997-1998 silam. Selain itu ada faktor lain yang banyak beredar di masyarakat apabila bangunan hotel ini kurang sesuai dengan unsur Balidan yang ada di Bali.
 

Banyak Cerita Horor Tentang Hotel Ini


Banyak sekali cerita horor yang disematkan untuk The Ghost Palace Hotel. Mulai dari yang benar sampai rekaan dengan bumbu-bumbu drama agar kian menarik dan mencekam. Cerita paling populer yang beredar di masyarakat setempat adalah jika dulunya banyak pekerja yang tewas secara misterius.




Selain itu warga sekitar hotel juga mengungkapkan apabila sering melihat penampakan sesosok wanita cantik berjalan menuju resort. Tidak hanya sebatas itu banyak pemuda di daerah tersebut yang sering digoda sosok wanita cantik dengan rambut sepundak. Wah, jadi ngeri sendiri bukan membayangkan sosoknya seperti apa?

Makin Tenar Setelah Masuk TV dan Diliput Bule


The Ghost Palace Hotel kini ikut masuk dalam daftar tujuan destinasi wisata para pelancong. Bagi mereka yang menyukai suasana berbau mistis, gedung-gedung tua, serta semak rimbun, tempat ini memang memiliki nilai jual yang mampu mengobati rasa penasaran. Selain itu ada patung ular yang meliuk seakan menjadi daya pikat bernilai horor tersendiri bagi pengunjung.

Ketenaran The Ghost Palace hotel ini sendiri tidak lepas karena pernah masuk dalam acara berbau mistis di salah satu televisi swasta Indonesia. Di mana ternyata memang ada keganjilan di sana. Tidak sampai di situ, seorang bule bernama Jacob yang nyasar ke hotel ini dan merekamnya pun ikut berandil besar. Lewat tayangan yang dia unggah pada Desember 2015 tersebut akhirnya banyak yang penasaran untuk berkunjung.




Sebenarnya kalau benar-benar dibenahi, tempat ini bakal jadi salah satu hotel yang ada di Bali. Sayangnya, upaya tersebut tak pernah dilakukan. Bisa dimaklumi sih, selain butuh dana yang besar, hotel ini juga sangat angker sehingga si pemiliknya pun tak mau ambil risiko.

Selasa, 06 Desember 2016

FESTIVAL BAHARI DI KEPULAUAN TOGEAN 2016


Bagi Anda yang ingin menikmati keindahan alam dari wilayah darat dan bawah air, kunjungilah Festival Bahari Pesona Kepulauan Togean 2016 di Sulawesi Tengah.

Acaranya bakal digelar 27-31 Agustus 2016. Ini adalah agenda tahunan yang bakal selalu dihadiri oleh wisatawan dari berbagai negara di dunia.

“Kalau soal wisata bahari, Togean tidak perlu diragukan, silakan hadir di sana,” kata Menteri Pariwisata RI Arief Yahya.

Menurut Menpar Arief Yahya, ada tiga jenis wisata bahari yang dikembangkan di tanah air. Pertama, coastal zone, atau bentang laut seperti pasir putih. Kedua, underwater zone, atau eksplorasi bawah laut Indonesia, dengan wisata selam. Ketiga, sea zone, wisata antar pulau dengan yacht atau perahu pesiar yang biasa sailing atau berlayar dari satu pulau ke pulau yang lain.

“Saat ini wisatawan mancanegara dari Italia, Jerman, Korea dan Prancis sudah mulai berdatangan di lokasi wisata Togean. Mereka datang  untuk menghadiri festival yang dihelat 27-31 Agustus tersebut,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti,Kamis 26 Agustus 2016.

Kedatangan wisman-wisman tadi disambut dengan layanan prima. Pemerintah Provinsi Sulteng sudah menyiapkan berbagai fasilitas transportasi serta menyiapkan hunian sementara bagi wisatawan asing yang datang ke Togean. “Begitu mendarat, wisman sudah nggak perlu bawa apa-apa lagi. Semua sudah ada yang urus. Dari mulai transportasi sampai penginapan sudah tersedia,” ujar Esthy.

Lantas apa sih yang menarik dari Togean? Mengapa juga turis-turis asing sampai kepincut datang ke destinasi yang kalah populer dengan Wakatobi itu? “Nama kepulauan Togean di Sulawesi Tengah mungkin tak setenar Wakatobi yang juga ada di provinsi tersebut. Tapi keindahannya tak kalah menakjubkan. Destinasi yang satu ini sangat cocok untuk wisatawan yang ingin berelaksasi,” tambah Esthy.

Ucapan Esthy memang tidak berlebihan. Selain hamparan pantai berpasir putih dan lautan biru jernih, Anda juga bisa melihat hutan mangrove yang keren di Togean. Ada sekitar 33 jenis mangrove yang ada di sana. Dari 19 jenis bakau sejati (true mangrove) dan 14 jenis bakau ikutan (associate mangrove), bisa dijumpai di Togean. Sepanjang mata memandang, Anda bisa melihat rumput pantai yang luas dan menjadi sumber makanan mamalia laut, dugong. Selain itu, masih ada juga gua-gua, sungai hingga air terjun.

Namun, tentunya pemandangan bawah laut yang spektakuler lah yang membuat Kepulauan Togean menjadi incaran para traveler. Kepulauan Togean termasuk bagian penting dari segitiga terumbu karang dunia, yaitu Sulawesi, Filipina dan Papua Nugini. Terumbu karangnya masih sangat sehat dan alami sehingga para wisatawan yang datang ke sini tidak akan melewatkan kesempatan untuk menyelam dan menikmati pemandangan tersebut. Keanekaragaman hayati inilah yang membuat Kepulauan Togean ditetapkan sebagai taman nasional sejak 2004 lalu.
“Karenanya Kementerian Pariwisata memberikan dukungan atas terselenggaranya festival ini. Kami ingin menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara,” ujar wanita berkerudung itu.

Di Togean nanti, wisatawan bisa menikmati 15 kegiatan yang keren. Dari mulai lomba perahu layar, perahu kecil (ketinting), tarik tambang perahu, lomba rally photo landscape, jelajah destinasi kepulauan Togean, lomba lari karung di pantai, busana daerah serta pameran industri kreatif masyarakat, sudah siap menyapa wisatawan yang datang. Bagi yang lapar, wisata kuliner juga dipastikan siap menyambut
kedatangan tamu. “Potensi wisata bahari tentu juga ada kuliner. Makanan olahan hewan lautnya sangat enak. Ikan bakar rica-rica juga oke punya,” kata Esthy.

Terpisah, Norma Mardjanu, Kadispar Sulawesi Tengah mengaku sudah siap menggelar festival yang mengangkat wisata bahari itu. Rangkaian kegiatan Festival Bahari Pesona Kepulauan Togean sudah disiapkan dengan baik.

”Semua sudah siap 100 persen. Jelajah Togean nanti akan menjadi sesuatu yang luar biasa, karena wisatawan akan diperkenalkan keindahan enam pulau dari 40 pulau besar yang sudah bernama di Togean. Dari Pulau Kadidiri, Pangempa Bolilanga, Pulau Taupan, Jellyfish Lake, Kulingkinari, semua dikunjungi,” kata Norma.

Magnit lain yang tak kalah wow-nya adalah even Rally Photo Togean. Di sini peserta akan menjelajahi dan menguak keindahan Kepulauan Togean yang juga dikenal dengan segitiga terumbu karang dunia. “Kepulauan Togean sangat indah dilihat dari atas. Dan di bawah lautnya,  lebih dahsyat lagi. Rally Photo Togean akan membuktikan hal itu," ujar Norma.

YUK KE NTT, ADA FESTIVAL ADVENTURE INDONESIA 2016!


Inilah momen liburan untuk para petualang. Festival Adventure Indonesia 2016 akan hadir di Pulau Sumba dengan tajuk Jelajah Tanahumba, 10-15 September mendatang.

"Jelajah Tanahumba ini diharapkan dapat mengenalkan pulau indah tersebut melalui beragam potensi pariwisata dan juga aktivitas luar ruang dan pertunjukan adat khas Sumba," ujar Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kemenpar, Raseno Arya, dalam rilis kepada detikTravel, Jumat (2/9/2016).

Tahun lalu, festival ini digelar di Pulau Alor pada 15-20 September 2015. Tahun ini merupakan even ketiga yang terus berkesinambungan dan didukung Kemenpar. Ada 200 pendaki dan fotografer yang akan ikutan kegiatan ini.

"Festival Adventure Indonesia merupakan event khusus untuk penggemar dunia petualangan dan cinta terhadap alam dan kebudayaan Indonesia," kata Raseno.

Akan ada banyak kegiatan petualangan yang menantang, mulai menyelam, bersepeda, pendakian, hingga tur budaya dengan menginap di kampung adat dan berbaur dengan masyarakat lokal. Tujuan festival ini untuk mempercepat perkembangan wisata di NTT, sebagai salah satu destinasi wisata bahari dan petualangan di Indonesia.

Hari pertama, penjelajahan akan diawali dari bagian timur Pulau Sumba dari Bandara Umbu Mehang Kunda, Waingapu. Peserta akan menyusuri keindahan Pantai Puru Kambera, menikmati sunset di Pantai Walakiri dan rehat di kampung adat Praiyawang, Rende.

Hari kedua, peserta akan merekam sunrise di pantai tebing Watuparunu. Juga melihat warisan kebudayaan di Rende berupa tenun ikat, kubur batu, menggembala kuda, aneka kerajinan dan berbagai kuliner. Air Terjun Gunung Meja di Palindi Tana Bara akan menjadi destinasi menantang bersama lembah di Wairinding sebelum bermalam di Waibakul.

Hari ketiga, ada pesta budaya dari pagi hingga malam di berbagai lokasi di Waibakul, Sumba Tengah. Ada juga keseruan adu banteng dan tinju tradisional pajura, jualan hasil kerajinan tangan, pernak-pernik dan kuliner khas Sumba. Primadona acara adalah Pasola, permainan lempar lembing sambil berkuda.

Hari keempat, petualang akan naik kuda atau motor trail ke Air Terjun Matayangu, dan Gua Liang Bakul. Lalu mereka ke Pantai Tai Tena dan mengunjungi kubur batu Nenek Matahari (Apu Ladu) di Pantai Konda Malomba selanjutnya berburu foto burung dan kupu-kupu di Taman Nasional Manupeu Tanahdaru.

Pada hari kelima usai sunrise di Waikabubak, mereka akan ke Danau Waikuri, ke Pantai Mandorak yang perawan dan menutup petualangan dengan sunset di Pantai Bwanna.

SUKSES DENGAN FESTIVAL SARONDE, GORONTALO SIAPKAN 5 EVENT SAMPAI AKHIR 2016



Festival Pesona Saronde 2016 sukses digelar di Gorontalo 1-4 September 2016. Pemda pun masih menyiapkan sejumlah festival seru sampai akhir tahun.

Festival Pesona Saronde 2016 di Pulau Ponelo 1-4 September dihadiri ribuan orang. Acara berlangung heboh, meriah dan mengesankan.

"Banyak sekali yang hadir ribuan orang, yang menarik di acara pembukaan adalah lomba tarian Langga. Tarian ini sangat unik karena juga ada unsur bela dirinya. Kami senang, masyarakat heboh dan wisatawan antusias, seluruh kabupaten dan kota ikut serta di acara ini," ujar Kepala Dinas Pariwisata Gorontalo, Jamal Nganro dalam rilis kepada detikTravel, Senin (5/9/2016).

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kemenpar Raseno Arya turut hadir dalam pembukaan yang ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Gorontalo, Polopalo dan pelepasan balon gas. Acara dilanjutkan dengan lomba reli perahu tradisional, voli pantai, lomba fotografi, pantun tradisional atau Palolohungolopoli, Langga, dan perahu hias. Rencananya akan masuk reli yacht sebanyak 40 kapal pada 6 September 2016.

Secara terpisah, Raseno Arya mengatakan Kemenpar akan membantu promosi Pulau Saronde sebagai ikon Gorontalo. "Kawasan tersebut juga kerap disinggahi kapal-kapal cruise dan yatch dan merupakan kawasan yang menuai pujian dari wisatawan mancanegara dan diminati para investor Timur Tengah," kata Raseno.

Sampai akhir tahun nanti, akan ada sejumlah festival seru di Gorontalo. Festival-festival tersebut antara lain Festival Karawo (November 2016) lalu ada
Festival Pesona Danau Limboto di Pentadio Resort pada 16-26 November 2016 dengan pawai budaya, lomba perahu tradisional, lomba lari 10 KM, lomba kicau burung mania, aksi bersih danau dan Fun Dive Olele.

Akhir November ada Festival Pesona Boalemo akan berlangsung Pantai Bolihuto pada 27 November hingga 3 Desember 2016. Akan ada tarian massal, Ekowisata Hutan Nantu, festival layang-layang, perahu tradisional dan parade yacht. Bulan Desember juga masih ada Karapan Sapi dan Pacuan Kuda serta Festival Walima.

Belitung, Maladewa ala Indonesia








Maldives yang terletak di Samudera Hindia atau disebut juga dengan Kepulauan Maladewa adalah salah satu pulau yang indah dan sudah terkenal di dunia. Jika Anda ingin menikmati keindahan lat biru nan eksotik seperti yang ada di Maladewa, maka kin Anda tidak perlu jauh-jauh ke sana. Anda cukup datang ke Belitung, maka semua impian Anda akan terwujud dalam waktu yang tidak lama.
Anda akan dapat menikmati dan menemukan keindahan ala Maladewa di  Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Kelayang, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung.

Menteri Pariwisata Arief Yahya rencananya akan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) KEK Pariwisata Tanjung Kelayang yang terletak di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pembangunan ini juga akan tercatat sebagai KEK yang realisasi pembangunannya tercepat di Indonesia.

Tanjung Kelayang ditetapkan sebagai KEK Pariwisata oleh Presiden Joko Widodo melalui Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2016, pada 15 Maret 2016 lalu. Praktis, realisasi pembangunan dimulai hanya dalam waktu lima setengah bulan sejak penetapan tersebut.

Padahal, rata-rata pembangunan KEK berjalan dua sampai tiga tahun sejak ditetapkan pemerintah, seperti KEK lainnya yakni Sei Mangkei, Tanjung Lesung, Morotai, dan Tanjung Api-api.



Tanjung Kelayang merupakan satu dari sepuluh destinasi utama pariwisata prioritas nasional. Kementerian Pariwisata memperkirakan kawasan ini dapat menjadi Maladewa versi Indonesia dan Bali kedua.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Kelayang berdiri di atas lahan seluas 432 hektar dan mulai digarap untuk landasan pacu bandara, pembangunan instalasi air bersih, listrik, dan perluasan jalan. Pemerintah menganggarkan Rp20 Triliun untuk Tanjung Kelayang.

Rencananya, kawasan ini akan berdiri resor dan hotel standar internasional. Setelahnya akan dibangun sepuluh fasilitas pariwisata lainnya mulai dari resor, klub pantai dan berkuda, hingga kawasan homestay.

"Akselerasi pembangunan akan berjalan cepat bila investor memiliki komitmen dan reputasi, serta ada wujud konkrit sinergi kuat antara pemerintah pusat serta daerah," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Kementerian Pariwisata memperkirakan pembangunan kawasan ini mampu mendatangkan 500 ribu wisatawan ke Belitung, atau meningkat 50 kali lipat dibanding kunjungan turis asing pada 2014.

Aksi Abang None Jakarta 2016 Untuk Promosi Pariwisataa



Bukan hanya sebagai sebagai seorang duta, Abang None 2016juga dilatih untuk mempu mengenal ragam wisata dan budaya yang ada di Jakarta. Dalam kunjungannya ke Liputan6.com (5/9), Abang Taufik Hidayat dan None Yasmine Kurnia menceritakan aksi mereka dalam mendukung pariwisata Indonesia.

“Kami, Abang None, selain melakukan kegiatan yang sudah direncanakan, kami juga melakukan gerakan sosial” Terang Abang Taufik.

Taufik menceritakan, salah satu contoh kegiatan mereka adalah membuat kegiatan sosial di Setu Babakan. Tujuannya adalah memperkenalkan Perkampungan Betawi Setu Babakan melalui pengajaran dan makanan pada masyarakat.

Mereka juga dilatih untuk mengenal lokasi wisata selama karantina, seperti menelusuri daerah Kota Tua. Yasmine menambahkan, mereka mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa, Villa Merah, Museum Keramik hingga Museum Sejarah Jakarta.

Pengenalan budaya dan wisata ini juga dilaksanakan ke Sekolah dan RPETRA (Ruang Publik Terpadu Taman Ramah Anak). Selain pengenalan secara langsung, Abang None juga memanfaatkan media sosial untuk mendukung kegiatannya.

“Kalau di Snapgram, khan, orang bisa liat jadi banyak konten yang kita masukkan disana,” jelas None Yasmin.

Sumber

Find Us On Facebook